Menggugat Ustadz dalam Narasi Konsep Hidup
Dalam hidup, kita seringkali dihadapkan pada sebuah tuntutan hidup yang sempurna. Dalam memaknainya, memang terdapat banyak perbedaan mengenai definisi sempurna. Ada yang di sandarkannya pada hakikat, atau ada juga yang di sandarkannya pada sesuatu yang empiris. Tidak di rasa berlebihan apabila makna sempurna oleh Sebagian kalangan dianggap sebagai bentuk penerimaan yang agung, penerimaan yang letaknya dalam hati, tidak lagi berbicara pada sesuatu yang empiris, tidak lagi berupaya untuk membangun penilaian. Namun disisi lain, ada pula yang menyandarkan makna sempurna pada sesuatu yang berbentuk, terlihat, terasa, seperti contohnya kesuksesan dalam membangun karir, dan kekayaan.
Mari kita bedah satu persatu, jika hakikat sempurna terletak pada sebuah penerimaan yang terletak dalam hati, kita permudah itu dengan menyebutnya sebagai rasa. Jika demikian, berarti sempurna dalam perspektif kalangan ini akan berbeda-beda, karena bentuk sebuah rasa dari setiap orang pun berbeda-beda, bahkan jika kita mencari satu persatu mengenai rasa, siapa yang mampu menggambarkannya secara konkret?, rasa itu abstrak, tidak berbentuk, sebagaimana udara, terasa namun sampai sekarang kita tidak tahu bentuknya seperti apa. Atau bahkan jika mampu diucapkan pun disana terdapat jeda, bisa saja Ketika mulut menjelaskan rasa yang sedang dirasa berbenturan dengan logika yang sedang berjalan sehingga ketika diucapkan tidak murni seperti yang dirasa. Bingung bukan? Ya, itulah jika kesempurnaan digambarkan pada sebuah rasa. Dapatkah orang langsung mengerti maksud kesempurnaan dalam versi kita? Saya rasa tidak, bahkan cenayang pun akan sulit mengupayakan dirinya untuk mengerti.
Selanjutkan,jika rasa disandarkan pada sesuatu yang empiris, terasa oleh panca indera, sempurna pada perspektif kalangan ini akan terasa nyata. Karena sempurna disini berbentuk, terpikirkan dengan baik. Anggaplah Ketika seseorang dalam kalangan ini berbicara mengenai kesempurnaannya dalam hidup ialah memiliki kekayaan, urusan kebutuhan primer sudah terpenuhi dengan baik. Perut kenyang maka hidup pun tenang. Kita tidak bisa munafik, kesempurnaan dalam versi ini adalah yang didambakan bukan?.
Dalam islam, kita mengenal konsep hidup sederhana, hidup secukupnya, tidak berlebih-lebihan, hidup yang tenang dan damai. Bagaimana caranya? Apakah harus dengan menerima keadaan Ketika susah? Apakah harus dengan menerima Ketika kesulitan dalam segala hal?. Saya rasa itu bukanlah sempurna yang dapat diterima manusia, manusia tentu mendambakan hidup yang baik, tenang, kenyang, dan memiliki standar kehidupan yang layak dalam versi manusia pada umumnya. Islam mengajarkan kita untuk menjalani hidup dengan sederhana, bukan menjalani hidup dengan keadaan miskin. Bedakan menjalani hidup dengan sederhana dan menjalani hidup dengan keadaan miskin. Lantas apa yang terjadi saat ini sangatlah jauh dari makna sempurna yang dimaksudkan, narasi-narasi dari pemuka agama pada jemaahnya dalam hal konsep hidup sudah banyak keliru, nilai-nilai yang diajarkan Ketika hidup dalam islam adalah kesederhanaan dalam versi yang pertama. Akhirnya Ketika golongan ini melihat sesamanya yang sedang bekerja keras agar mendapatkan penghidupan yang layak malah disebut cinta dunia, dan melabeli dirinya yang taat beribadah dengan narasi ‘sedang mempersiapkan kehidupan di akhirat’ sebagai penghuni syurga. Seolah dirinya sedang memonopoli syurga, dan melabeli para pekerja keras agar mendapatkan kehidupan yang layak dengan kategori cinta dunia.
Para pemuka agama seharusnya memberikan narasi-narasi penyemangat, bukan malah memberikan narasi bertahan. Jangan dengan ungkapan bertahap hidup, namun seharusnya lalui hidup. Bisa dibayangkan Ketika kita sebagai seorang muslim memiliki kehidupan yang layak, maka urusan horizontal sudah tidak akan mempertimbangkan urusan perut, urusan vertikal akan terasa baik tanpa mendengar tangisan si kecil. Dakwah pun akan terasa sempurna karena urusan perut sudah selesai, sebaliknya Ketika hidup umat muslim serba kekurangan, akan ada satu waktu Ketika berdakwah berbenturan dengan urusan bawah.
Kita sandarkan semuanya kepada Allah, kita rubah konsep sederhana yang dimaksudkan. Tugas kita hanya mampu berusaha, percaya saja bahwa Allah sebagaimana prasangka hamba-Nya.
Ke depan buat bahasa blog yg lebih mudah difahami untuk saya khususnya. Supaya bahasanya lebih terjagkau untuk orang yg awam seperti saya. Contohnya kata empiris, vertikal, horizontal....
BalasHapusHallo kak, terima kasih atas masukannya 🙏
Hapus