KEGILAAN

Mari menghela nafas, 

Teringat romansa. 

Dan memang manusia menyukai alam memori, letak ia bersenda gurau.

Bahwa Tuhan mengapresiasi elastisitas berpikir manusia. Seharusnya, bagi insan yang memahami Ilmu Tuhan, bagi ia yang didipi istilah pemuka Agama, dapat menemani tidurnya akal yang tersesat. 

Ya Tuhan, Engkau adalah apa yang sering disebut Indah, Baik, dan penuh cinta. Sedang aku adalah apa yang disebut sombong, kekal, kuat dan pemilih dalam mencinta. Merupakan aku ialah apa yang seharusnya  tak tahu diri. 

Allah lagi-lagi sedang membelajarkan ku dalam jalan mencari hakikatNya. Perjalanan spiritual yang LAGI saya temukan. Perjalanan ini belum berakhir, masih banyak Ilmu Allah yang luar biasa baiknya, kenapa hanya menganggap satu ajaran benar, sedang Al-Quran saja diturunkan dengan bahasa yang Universal. Jika benar dalam berijtihad maka mendapat dua, jika salah pun Allah masih memberi satu. Tidak ada nilai kosong yang Allah berikan, Ia mengetahui dan mengapresiasi ikhtiar hamba-Nya. Aku hanya mencoba untuk tidak menjadi taqlid yang taat, tidak ada tempat yang nyaman untuk ditinggali lama, bahkan jika tempat itu mengatasnamakan Dirimu, tempat yang kekal hanya di sampingMu, disini adalah tempat mencari. 

Di ujung ruangan ini aku duduk, sedang melakukan dosa yang sangat tidak Engkau sukai. Entah apa yang Kau lakukan hingga menggerakkan jari ku mengetik Shalawat Abu Nawas tentang sebuah pengakuan, sungguh di mula shalawat itu tak terasa air mataku keluar. Aku sungguh tak mengerti apa yang Engkau lakukan, Engkau memelukku ketikan kondisiku terjerambab, aku lelah dalam pencarian jawaban sesamaku, dan Kau tunjukkan Dirimu dalam wujud lain. Ya, Kau tunjukan Dirimu dengan membuat diriku tenang.

Setiap orang membawa dosa dan masalahnya sendiri. Bukan dosa atau masalah warisan. Melainkan karena perilakunya sendiri. Begitu pun Aku, membawa masalah mencoba menyelesaikan itu dengan membenarkan hati dan pikiran terlebih dahulu.

Dia membawaku pada muara yang awalnya membuatku melamun, berkhayal soal fantasiku selama ini, yaitu bertemu dengan orang-orang lintas pehaman. Aku sederhanakan pikiran ku, aku kosongkan dan siap menerima segala ilmu-Nya melalui mulut-mulut asing yang baru ku kenal. 

Entah apa penyebabnya, aku mendapat undangan misterius namun sangat menantang. Dunia yang aku sempat pelajari dulu namun tak ku perdalam. Aku sangat menyukai segala hal yang berbau ushuluddin. Mulut ku Dia gerakan untuk mengucapkan yang akhirnya menjadi pemicu aku berada di lingkungan itu. 

Aku berguru pada seseorang yang gila, bergaul dengan sekumpulan aneh, tak ada harapan padanya di awal pertemuan. Ya, dia dan segala ajarannya gila! 

Wajar ku katakan gila, bahkan ketika aku adukan masalah ku, ucapnya sangat ringan "jika akhirnya masalahmu membawamu di penjara, ya sudah masuk penjara saja, gitu saja kok repot".

Gila bukan? 

Yaa, dia Gila, sama seperti guru-gurunya, sama seperti Rumi, Rabi'ah al-Adawiyyah, Abu Nawas, Al-Hallaj, Junaid, Al-Ghazali. 

Mereka semua gila, itulah anggapan masyarakat terhadap mereka. Terhadap seonggok yang sangat menggilai Tuhan, tahapan cinta-Nya mengalahkan puncak tertinggi logika manusia. 


Dan kini, aku sangat menikmati kegilaanku. 

Komentar

Postingan Populer