LGBT Patologi Sosial?

Katanya, LGBT adalah patologi Sosial?

Maraknya pemberitaan LGBT secara tidak langsung sudah dan akan menggiring masyarakat untuk terbiasa dengan fenomena tersebut. Sangat menarik memang ketika kita membahas persoalan yang satu ini, jika di tarik pada sejarahnya, kaum LGBT sudah ada dari jaman kenabian. Seperti sebuah laga series, hal demikian akan terus berulang sampai generasi anak cucu kita, yang menjadi pembeda barangkali versinya, lebih modern.

Pembiasaan masyarakat dan pelaku LGBT pun di dukung dengan kemudahan akses saat ini menuju ke arah sana, situs tayangan pornografi, juga layanan aplikasi pesan singkat seperti &$_$@lr atau &@&$net yang sangat mudah diperoleh di -#)@)$+#re, membuat fenomena LGBT akan semakin Biasa di mata masyarakat.

Sebelum jauh pada pembahasan mengenai memanusiakan Pelaku Patologi Sosial, mari kita mengenal beberapa aktivis LGBT yang berhasil merubah pandangan masyarakat mengenai LGBT.

Seperti yang di muat dalam www.bbc.com/indonesia, Di Jerman, pada tahun 1854 terdapat seorang pegawai Negeri bernama Karl Heinrich Ulrichs yang dipaksa mengundurkan diri dari pekerjaannya karena homoseksualitasnya, pasca kemundurannya dari pekerjaannya sebagai pegawai negeri, ia aktif menyuarakan hak-hak kaum Gay sampai bisa memuat 12 jilid karya tentang seksualitas. Termasuk apa yang diyakini sebagai teori pertama dengan seksualitas. Dia berpendapat bahwa homoseksual adalah "Kondisi Bawaan" bukan korupsi yang bisa dipelajari. Urlich dianggap sebagai orang gay pertama yang secara terbuka menyuarakan hak-hak homoseksual. Pada tahun 1867, Dia mendesak pemerintah Jerman untuk mencabut undang-undang anti-homoseksualitas, dan itu membuatnya ditempatkan sebagai pelopor gerakan hak kaum gay.

Selanjutnya ada Barbara Gittings lahir di Wina, Austria, pada tahun 1932, dan pindah ke Philadelphia, AS pada usia 18 tahun.

Ia dikisahkan bepergian dengan menumpang mobil di New York pada akhir pekan dengan pakaian pria. Gittings mengepalai cabang Daughters of Bilitis (DOB) New York di tahun 1950an - organisasi hak-hak sipil lesbian pertama di AS.

Pada 1070-an, dia adalah anggota terkemuka dari gerakan perlawanan untuk mengeluarkan homoseksualitas dari daftar gangguan kejiwaan American Psychiatric Assosiation (APA). Pada tahun 2006, APA mengakui upayanya dengan memberinya penghargaan hak asasi manusia.

Ribuan perjuangan yang dilakukan para aktivis LGBT sampai saat ini masih sulit, betapa mereka selalu dibenturkan oleh pemahaman keagamaan, juga kepentingan politik. Bahkan para politikus pun tidak sedikit yang menyuarakan mengenai berbahayanya penyebaran "Virus LGBT".

Terlepas pada benar atau salahnya, rasanya kita perlu melihat ini dari berbagai sudut pandang, jika kita melihatnya dari sudut pandang agama, tentunya akan berhenti dengan kata Dosa. Jika kita melihatnya dalam sudut pandang HAM, pelaku LGBT masih dan harus terus dijunjung Haknya. Juga apabila kita melihatnya dalam kacama horizontal, mereka adalah manusia juga, perlu rasanya kita menyayangi mereka sebagai sesama manusia. Sejenak lepaskan jas keagamaan kita, warna kita, atau apapun yang membatasi kita sebagai sesama manusia. Dengan menghargai mereka sebagai sesama manusia, toh kita pun tidak otomatis menjadi pendukung perilaku mereka kan?.

Saling menghargai adalah opsi paling baik untuk saat ini, masyarakat diharapkan dapat berlaku normal ketika melihat mereka dalam kehidupan sosial, pun mereka sebagai pelaku diharapkan untuk dapat membatasi hal-hal yang akan membuat masyarakat semakin geram. Budaya ketimuran kita tidak bisa dengan mudah langsung ditinggalkan, ketika kita bertemu dengan sekelompok masyarakat yang tidak sepakat, jangan mudah melabeli mereka dengan istilah 'Gak Opend Minded'. Pun ketika kita bertemu dengan sekelompok masyarakat yang sudah terbiasa, jangan berlaku jumawa dengan beranggapan bahwa kita adalah Generasi kekinian. Hati-hati dengan istilah Open Minded ya!

Komentar

Postingan Populer