Mengungkapkan Rasa, Tidak Salah!
Perilaku itu nentral kan?
Dia tidak dimiliki atau dikhususkan untuk gender tertentu. Keumuman yang terjadi beranggapan bahwa laki-laki itu sombong, atau besar kepala. Sebentar, dalam hal apa?
Mari kita kupas, dalam satu situasi, ada seorang perempuan, sebut saja namanya Gantira, ia menyukai seorang laki-laki, tapi yang ia sukai bersikap dingin dan biasa saja. Barangkali memang si laki-laki tidak menyukai perempuan tersebut. Jauh dalam hatinya, Gantira ingin sekali mengungkapkan isi hatinya, rasanya ingin sekali ia jujur terhadap laki-laki tersebut, namun Gantira mengurungkan niatnya karena ia teringat ucapan seorang temannya, ucapan yang mungkin difahami oleh keumuman perempuan saat ini. Bahwa ketika seorang perempuan mengungkapkan isi hatinya, maka hal tersebut akan menjadikan si laki-laki besar kepala. Pointya adalah 'besar kepala', Gantira takut perasannya tak berbalas, atau kalau pun si laki-laki balik menyukainya, ia pasti besar Kapala. Gantira mengkhawatirkan jika terjadi sebuah konflik nantinya, si laki-laki akan berucap "kan kamu yang menyukai ku".
Contoh lain, ketika Swastika seorang karyawati di sebuah perusaan yang bergerak di bidang industri kreatif, menyukai seorang pria sebayanya yang sudah ia kenal cukup lama, Kisaran tiga tahun. Pria tersebut merupakan rekan kantornya yang pada waktu bersamaan merupakan rekan seangkatannya di perusahaan tersebut. Swastika amat sangat menyukainya, pria bertubuh gempal, dengan potongan rambut rapi dan memilih halis yang tebal. Di tambah sikapnya yang humoris dan sangat baik, tidak salah apabila Swastika perlahan menyukainya. Sama halnya seperti Gantira, Swastika ingin sekali mengungkapkan perasaannya, namun terhalang karena ia gengsi untuk mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu. Akhirnya ia pendam cukup lama, Swastika beranggapan apabila ia mengungkapkan isi hatinya, ia khawatir si pria tidak balik menyukainya, atau ia khawatir apabila mengungkapkan perasaannya akan membuat si Pria tidak seramah seperti saat ini kepadanya. Kecamuk itu terus bergulir dan menjadi sebuah penyesalan di akhir. Kini si Pria sudah menikah, karena mereka teman baik, sangat akrab, akhirnya Swastika jujur bahwa dirinya dulu sangat menyukai di pria. Pria tersebut hanya diam, sejanak membeku, sampai ia buka suara. Ternyata si pria pun menyukai Swastika, namun si pria enggan mengungkapkannya karena ia takut Swastika hanya menganggapnya teman baik. Swastika hanya termenung, ia sungguh menyesal dan menggerutu dalam hatinya. Si pria pun menggerutu dengan mengucapkan "kenapa dulu lu gak ungkapin ke gua tikaaaa".
Pelajaran yang bisa diambil, bahwa perilaku atau rasa yang manusia miliki itu tidak dikhususkan untuk gender tertentu. Sifat sombong yang dikhawatirkan Gantira tidak hanya dimiliki si pria, sombong pun sangat lumrah dimiliki wanita. Pun dengan perilaku tercela lainnya, seperti jahat, kasar, tukang menyakiti perasaan, itu semua bukan perilaku pria, tapi perilaku manusia.
Hargai rasa yang kita miliki, beri hak pada diri kita untuk jujur, mengungkapkan rasa lumrah terjadi. Bukan sebuah aib.
Cerita yang luar biasa, dan sangat meginspirasi..
BalasHapusTulisannya ringan, mudah di fahami, dan to the point.. 👍
BalasHapus