Maskulinitas Tidak Laki


            Jika dilihat dalam karakteristiknya, maskulinitas dilambangkan pada sesuatu yang perkasa atau sebuah kejantanan. Sedangkan femininitas adalah sesutau yang lembut. Namun pada sifatnya maskulinitas dan femininitas berdeda dengan gender, karena ia lumrah dimiliki perempuan atau laki-laki. Seorang perempuan sangat lumrah memiliki karakter maskulin, dalam kesehariannya kita bisa melihat ketika seorang ibu mampu berjam-jam menggendong anaknya. Berbeda ketika seorang ayah, akan mudah ditemui mengeluh ketika menggendong anaknya meskipun hanya baru satu jam, apalagi jika sang anak “rewel”. Atau ketika melihat seorang pria dewasa yang sudah menikah menjadi seorang yang handal dalam memasak di rumahnya, hal tersebut tidak menjadi ciri bahwa dunia sedang terbalik. Jika kita masih berpikiran demikian, ada yang salah dalam proses kita menganalisa perbedaan tersebut.

Adanya konsep perbedaan gender menjadi fenomena yang banyak melahirkan kesalahpahaman yang terus bergulir, bak bola salju, makin besar bukan semakin indah, justru semakin membahayakan. Pemahaman ini perlu untuk segera diluruskan. Sebenarnya, konsep perbedaan gender tidak akan menjadi masalah jika dilapangan tidak ditemui sebuah permasalahan, namun pada kenyataannya hal ini menjadi benteng pemisah. Dilapangan kita bisa melihat perbedaan itu begitu kentara, adanya pembagian antara “Pekerjaan laki-laki” dan “Pekerjaan Perempuan, contoh kecilnya ketika pembagian itu merinci bahwa laki-laki harus menjadi pemimpin dan perempuan tidak layak menjadi pemimpin. Dalil-dalil yang digunakan oleh para pegiat patriarki biasanya bersumber dari hadist-hadits Misoginis dan sebuah ayat yang berbunyi Arrijalu qawwamuna 'alan nisa[1], penafsiran akan ayat tersebut menyebar di kalangan masyarakat, dan bahkan sudah menjadi isme yang mengartikan laki-laki adalah jenis makhluk yang paling berkuasa dibandingkan perempuan. Ayat tersebut juga penuh dengan kritik oleh para pegiat gender seperti Amina Wadud, dan lainnya, mereka mengatakan bahwa faktanya tidak semua laki-laki mampu memberikan penghidupan yang layak bagi keluarganya, bahkan dalam banyak kasus, wanita (istri) yang sudah bekerja justeru lebih mampu memberikan penghidupan yang layak  bagi keluaganya, bahkan lebih mampu menyelesaikan persoalan ekonimi dibandingkan laki-laki. Rasanya, frame tersebut sudah tidak relevan jika dikaitkan dengan kehidupan wanita modern pada saat ini. Banyak kasus pula yang terjadi ketika seorang anak hak asuhnya diberikan pada sang ayah, namun yang mampu memberikan nafkah secara layak justru ibunya.

Selanjutnya, mereka melakukan reinterpretasi dengan pendekatan kebahasaan. Kata al-Rijal yang artinya para laki-laki adalah bentuk plural dari kata Rojulun yang artinya laki-laki. Kata Rojulun memiliki bentuk dan akar kata yang sama dengan kata Rijlun yang artinya kaki. Adanya kesamaan huruf dan akar kata tersebut menunjukan adanya korelasi makna. Makna yang diharapkan dari kata rojulun yang seakar dengan rijlun adalah personifikasi manusia yang memiliki kaki yang kuat dan personifikasi dari manusia yang mudah melangkah. Maksudnya, kata rojulun bermakna kemampuan untuk dijadikan sandaran tanggung jawab sebagai kepala keluarga dan kemampuan untuk berani dan mau melangkahkan kaki memenuhi kebutuhan/kewajiban keluarga. Maka menurut mereka, siapa yang memiliki kemampuan tersebut, itulah pemimpin keluarga terlepas dari jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Sedangkan al-Nisa' dalam ayat itu diposisikan sebagai lawan kata dari rijal. Maka yang dimaksud al-Nisa' dalam ayat itu menurut mereka adalah orang yang tidak memiliki kemampuan tersebut sehingga layak untuk dipimpin.[2]

Bagi saya (penulis) fenomena tersebut menjadi sebuah pembahasan yang menarik, bahwa sebenarnya ada tafsiran lain yang lebih relevan dengan saat ini, karena kata Rijal dalam ayat tersebut adalah sesuatu bentuk sifat maskulin, yang lumrah dimiliki oleh laki-laki atau bahkan perempuan.



[1] (QS. An-Nisa: 34)

[2] http://eksplorasiilmupengetahuan.blogspot.com/2017/08/makna-laki-laki-dan-perempuan-dalam (diakses pada Rabu 3 Febuari 2021, pukul 16.00)

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer