Bidadari Syurgaku



                Namaku Muhammad Afwan Rizkiansyah, aku adalah seorang anak kota yang terlahir dari keluarga yang sederhana. Bapak ku adalah seorang karyawan swasta dan Ibu ku hanyalah seorang penjual lotek. Aku memiliki dua orang adik, yaitu Ardi Auliyansyah yang masih duduk dibangku sekolah menengah pertama dan adik bungsu ku Ajeng Aisyah yang masih menempuh pendidikan dibangku sekolah dasar. Dan aku adalah seorang mahasiswa tingkat 2 yang mengambil studi keagamaan disalah satu kampus ternama di kota ini, Kami tinggal disebuah rumah kontrakan yang berada disekitar lokawisata terkenal di kota kami.
***
                Pagi itu aku cukup tergesa-gesa saat akan berangkat kuliah, sehingga dikelas tadi saat mata kuliah bahasa arab aku tidak membawa modul yang seharusnya ada disetiap mata kuliah tersebut, dan apabila tidak membawanya harus keluar dari kelas, untung saja aku memiliki seorang teman dekat yang dengan mengikuti caranya aku bisa mengelabui sang dosen sehingga aku bisa tetap mengikuti mata kuliah ini meskipun tanpa modul yang lupa aku bawa.

                Aku cukup eksis di kampus terutama di fakutas ku sendiri, karena posisi ku sebagai seorang kosma atau bisa dikatakan seorang ketua mahasiswa di kelas ku, sehingga setiap dosen akan mengetahui ku dan semua mahasiswa juga mengetahui ku. Terkadang aku menggerutu dengan posisi ku sebagai seorang kosma, karena seringkali dijadikan sebagai pesuruh kelas, dan harus bertanggung jawab memberikan informasi kepada mahasiswa di kelas jika perkuliahan tidak ada atau dipindahkan jam kuliahnya, namun terkadang aku juga bersyukur dengan posisi ini karena dapat mengenal dan dikenal oleh para dosen dan staf pengurus fakultas.

                Kedekatan anak-anak dikelas begitu terjalin dengan baik, karena dengan posisi ku sebagai kosma aku tidak membatasi ruang komunikasi ku dengan mereka, sehingga semuanya dapat terkontrol dengan baik, meskipun terkadang saat emosi ku tak dapat lagi aku tahan kerap membuat teman-teman disekitar ku tersinggung dengan ucapan ku yang asal nyerocos.

                Saat itu jam mata kuliah pengantar psikologi ditiadakan, karena sang dosen berhalangan hadir sehingga jam kuliah diganti hari, aku dan teman dekatku memanfaatkan waktu itu dengan bersantai diri ditangga gedung dengan melihat ke arah bawah gedung, sehingga geliat aktivitas mahasiswa cukup terlihat jelas dari atas sini, ini juga merupakan salah satu tempat favorit kami karena tempatnya sejuk dan cukup nyaman untuk bersantai, sesekali kami juga sering mengintai beberapa akhwat yang Subhanalloh dapat menggoyahkan keimanan ini, karena kampus kami merupakan kampus islam sehingga mayoritas mahasiswi di kampus ini menggunakan jilbab. Namun tidak sedikit pula yang enggan menggunakan jilbab, atau adapun yang menggunakan jilbab namun sangat membentuk lekuk tubuhnya, dan akhwat yang aku dan teman dekatku sukai adalah akhwat yang memakai jilbab syar’i, dengan kerudung panjang yang hampir menutupi sebagian tubuhnya dan gamis yang menutupi hingga ujung kakinya. Sering kali diskusi kami mengarah pada pernikahan, siapa, bagaimana, dan seperti apa calon kami yang akan menemani langkah kaki ini menuju syurga-Nya.

                Suatu hari aku melihat dia, dengan memakai gamis biru tua dan kerudung blue black, sungguh menawan ciptaan Alloh yang satu ini, menggunakan tas outdoor yang aku rasa sangat matching. Dia seorang akhwat dari fakultas tertentu yang menggeluti bidang Ilmu Pengetahuan Alam, aku tidak mengetahui namanya dan ingin sekali mengenal akhwat tersebut, hanya saja aku cukup minder untuk mendekatinya, karena terlihat dari pakaiannya dan dia juga merupakan aktifis salah satu ukm kampus dalam bidang keagamaan, sedangkan aku hanya seorang lelaki biasa yang masih banyak kekurangan terutama dalam bidang agama. Namun aku bertekad dalam hati, ya Alloh jika dia jodohku mudahkanlah segalanya, jika dia bukan jodohku semoga Engkau gantikan dengan yang lebih baik.

                Jam perkuliahan dihari ini telah berakhir, perjalanan dan kisah dihari ini cukup berharga dan harus aku bukukan, banyak sekali moment dan kejadian yang sangat bagus jika suatu hari nanti aku kenang kembali. Aku segera bergegas pulang, membersihkan diri, lalu makan malam dengan keluarga tercintaku dan aku menuliskan semua kejadian dari pagi hingga sore tadi kedalam laptop untuk aku share dihalaman blog ku. Aku pun kembali bermimpi.
***
                Tak terasa aku sudah menginjak tingkat akhir dikampus ini, banyak sekali pengalaman dan kejadian berharga yang membentuk ku menjadi Afwan yang sekarang, Alhamdulillah ditingkat akhir ini aku sudah memiliki usaha sendiri yang aku rintis selama masa perkuliahan, maklumlah aku berusaha membiayai biaya kuliahku dengan tidak meminta kepada orang tua meskipun terkadang aku meminta bantuan kedua orang tua ku. Aku berjualan pulsa, dan berbagai panganan yang aku jajakan kepada teman-teman ku. Saat aku menginjak semester 3 aku memperoleh beasiswa sehingga dapat mengurangi beban ku dan orang tuaku, hingga semester akhir aku mendapatkan beasiswa terus menerus dari berbagai lembaga, sehingga dengan uang beasiswa yang diberikan setiap bulannya bisa aku manfaatkan untuk modal usaha dan membantu mengembangkan usaha ibuku yaitu lotek.

                Aku menginginkan sekali mempunyai pendamping seperti kebanyakan yang teman-teman ku lakukan, dengan mempuyai seorang pacar yang dapat menyemangati, memberikan perhatian dan menghabiskan waktu bersama setelah kuliah berakhir. Dulu aku mempunyai seorang pacar yang sangat baik, hanya saja setelah mulai masuk kuliah aku memutuskan untuk tidak mejalin hubungan pacaran lagi hingga aku bertemu dengan sahabatku dan kami berjanji untuk tidak mencari seorang pacar dan memacarinya, namun jika sudah menginjak tingkat 3 atau tepatnya semester 5 perjanjian itu hangus dan diantara kami sudah boleh mencari pendamping, terserah apakah itu seorang pacar ataupun pendamping untuk dibawa ke jenjang pernikahan. Dalam proses penantian, aku dan sahabatku fokus dalam perkuliahan meski terkadang fokus itu sering kali salah fokus dan kami memaklumi itu karena itu hal yang wajar, kami mencoba untuk semakin mendewasakan diri dan meningkatkan kualitas diri, sehingga setelah masa penantian kami sudah siap dengan modal yang telah kami punyai, bukan hanya modal dalam bentuk materi, tetapi modal fisik, bathin, dan yang utama ialah modal ilmu agama. 

                Disemeter akhir ini, aku tidak hanya disibukan dengan tugas-tugas dan skripsi, aku juga disibukan dengan usaha ku yang sudah cukup berkembang, begitu juga dengan sahabatku yang juga mempunyai usaha yang sudah cukup berkembang, kami sudah jarang bersama-sama seperti dulu saat masih disemeter bawah, namun kami memaklumi itu dan meskipun begitu kami tetap berhubungan baik.

                Saat sedang sendiri bersantai di tangga gedung, aku terlintas teringat sahabatku yang dulu sering kali menemaniku di tempat ini, kini kami sudah semeter akhir dan kami sudah akan lulus dari kampus ini. Cukup sedih memang, mengenang semua yang telah terjadi, melawatinya dengan penuh perjuangan, tangisan, canda, dan ratapan yang semua itu menjadikan ku menjadi seperti ini, aku sadar bahwa perjuangan ku belumlah berakhir sampai disini, masih banyak hal yang harus aku kerjakan dan juga ......... saat aku sedang menghayal tiba-tiba....... heeeeii aku melihat dari atas tangga gedung ini, berjalan seorang akhwat dibawah sana, dengan gamis biru tua dan kerudung blue black panjang, dan tas outdoor yang sangat matching dengannya, persis seperti saat dulu masih tingkat awal aku melihatnya diatas sini dengan sahabatku. Aku menjadi teringat semua kejadian itu. Aku rindu dengan sahabatku yang kini dia sudah mulai sibuk dengan kegiatannya, dan aku juga rindu dengan akhwat itu yang sudah cukup lama aku menaruh hati padanya namun hingga sekarang aku belum mengungkapkannya, aku pun kembali berbicara dalam hati, yaa Alloh jika dia jodohku mudahkalan semuanya dan jika dia bukan jodohku semoga Engkau gantikan dengan yang lebih baik.
***
                Saat itu adalah satu hari sebelum wisuda, aku mengadakan janji dengan sahabatku untuk menghabiskan waktu bersama sambil berbincang apa yang akan dilakukan pasca kuliah S1 ini berakhir. Sahabatku berkisah, setelah dia lulus S1 dia akan melanjutkan karirnya dengan mendaftarkan diri sebagai seorang TNI, aku cukup senang mendengarnya, menjadi seorang TNI adalah cita-cita terbesarku dulu saat masih duduk dibangku SMA, hanya karena suatu hal aku tidak jadi mengikuti seleksi menjadi seorang TNI, dan cita-cita besarku itu diteruskan oleh sahabatku yang ternyata menaruh minat untuk menjadi seoranng TNI. Aku doakan langkah sahabatku ini menjadi seorang TNI akan dilancarkan oleh-Nya, aamiin.

                Dan aku berkisah pada sahabatku, setelah lulus S1 ini aku ingin menikah, sambil mengembangkan usahaku, setelah itu aku ingin meneruskan studi S2 ku ke Turki, negeri impianku. aku ingin menikah, namun calon pendamping aku tidak punya, pun dengan sahabatku ini setelah perjajian itu, sampai semeter 5 kami tak kunjung mendapatkan pendamping, hanya beberapa saja yang sempat dekat, kami terlalu fokus terhadap studi dan usaha kami. Namun dalam hatiku berucap ingin rasanya aku memiliki pendamping seperti yang dulu kami lihat dari atas tangga gedung, hingga sekarang aku tetap memikirkan dan menaruh hari kepada akhwat itu.

                Keesokan harinya hari dimana aku dan sahabatku serta semua teman-teman mahasiswa menempati posisi teratas dan kami akan segera memperoleh gelar sarjana, hal yang sangat dinanti-nantikan. Penuh haru dan tangis bahagia, melihat kedua orang tua ku hadir diacara wisuda ku ini, perayaan yang tidak pernah terbayang akan dialami oleh orang tuaku, karena kedua orang tua ku hanyalah lulusan sd dan smp. Aku bangga telah sampai diposisi ini, dengan nilai yang sangat memuaskan dan dapat melihat kedua orang tua ku tersenyum lebar, tidak pernah sebelumnya aku melihat kedua orang tua ku bahagia seperti ini. Senyum mereka, tepuk tangan mereka untuk ku adalah kado terbesar untuk aku yang hanyalah seorang anak kota yang terlahir dari keluarga sederhana, yang tergerus oleh pergaulan, namun aku tetap bertahan, aku tetap ingin kuliah dan menyelesaikannya dengan sempurna, aku akan lanjutkan karirku, menikah, dan hidup bahagia bersama keluargaku nanti hingga aku memiliki keturunan yang sholeh dan sholehah.
***
                Hari ini adalah hari terbesar setelah wisuda beberapa bulan yang lalu, ya.. hari ini adalah hari pernikahan ku. Aku menikah dengan akhwat yang selama ini aku inginkan, aku mulai memberanikan diri untuk mengajaknya berkanalan dengan memulainya melalui jejaring sosial, aku dapatkan nama jejaring sosialnya dari salah satu temanku saat aku di asrama dulu. Ternyata pacaran setelah menikah itu lebih nikmat, andai saja dulu aku tetap mengikuti nafsu ku untuk mengenalnya dan mengajaknya untuk pacaran mungkin tidak akan senikmat ini, aku dapatkan dia dengan kondisi seperti handphone baru yang masih disegel, bedanya dengan dia, dia tersegel keimanan dan ketaqwaan yang luar biasa, sehingga menjadikannya wanita sholehah, bidadari syurgaku.

                Setelah hari pernikahan itu, aku mendapatkan beasiswa S2 di negeri impianku yaitu Turki, salah satu beasiswa yang cukup terkemuka dan sudah banyak mahasiswa yang mengikuti program beasiswa ini. Yang cukup menyedihkan, ternyata aku tidak diizinkan oleh penyelengara beasiswa mengajak istriku untuk tinggal bersama disana nanti, awalnya aku mengurungkan niat untuk mengambil beasiswa itu, karena baru satu bulan kami menikah, dan aku tidak ingin meninggalkan isteriku seorang diri. Namun ternyata justru kalimat itu terlontar dengan mulus dari mulut isteriku, “pergilah sana, raih cita-citamu, aku tau beasiswa itu adalah hal yang kau impikan sejak dulu, aku ikhlas kau pergi jika itu untuk kebaikan, aku akan doakan kau, dan aku akan tetap setia menunggu hingga kau menyelesaikannya, semoga kau disana baik-baik saja, dan tetap memegang janji setia yang telah kau ucapkan”. Setelah mendengar itu, tak terasa air mataku bercucuran, aku terharu dengan ucapan itu, ucapan yang penuh dengan keikhlasan. Aku peluk dia, aku kecup keningnya, dan aku berjanji untuk segera menyelesaikan beasiswa itu dan kembali hidup bersamanya.

                Seperti sebuah motor yang baru saja diperbaiki, aku serasa mendapatkan tenaga baru, aku semangat sekali untuk beasiswa itu, dan aku ingin segera menginjakan kaki di negeri impianku Turki. Masih ada sisa seminggu lagi sebelum keberangkatanku ke Turki, semua berkas persyaratan sudah aku siapkan, aku tak henti-hentinya bersyukur pada Alloh atas segala kenikmatan yang telah Dia berikan untukku, semuanya berjalan dengan mulus meski banyak cobaan namun dengan ridho-Nya aku bisa melewatinya dengan sempurna.

                Hari ini adalah hari keberangkatanku ke Turki, aku sudah bersiap sejak pagi hari di bandara Husein Satranegara untuk menunggu pesawat yang akan mengantarkanku ke bandara Soekarno-Hatta Jakarta untuk transit di Changi Airport singapura dan segera menuju Bandara internasional Turki. Aku ditemani kedua orang tuaku, isteri tercintaku, dan sahabatku yang sangat aku sayangi, merekalah yang menjadi bahan bakar semangatku hingga detik ini.

                Panggilan untuk penumpang pesawat Boeing 770 sudah terdengar jelas agar menyiapkan diri untuk segera naik ke kabin pesawat, aku pun bergegas menyiapkan diri. Aku salam dan aku peluk kedua orang tuaku. Aku peluk isteriku, aku cium keningnya, aku bisikan beberapa nasihat untuknya. Aku jabat erat tangan sahabatku, aku peluk dia, dan inilah obrolan-obrolan semasa kuliah yang akan terealisasi. Aku pun berangkat dan semuanya terasa baru lagi untuk ku.
***
                Sudah satu tahun sejak keberangkatanku dari Indonesia menuju Turki, aku mulai merasakan rindu yang sangat mendalam kepada kerabatku di Indonesia sana, terutama isteriku yang belum lama aku nikahi namun sudah aku tinggalkan demi mengejar cita-citaku. Aku kirimi mereka dengan e-mail, terkhusus e-mail untuk isteri tercintaku..
”isteriku, kau bunga ditamanku, mekar dan kian mewangi, menghiasi diriku dimanapun aku berada. dilubuk hati ini engkau bidadari syurgaku. Kepergianku dalam berjuang, kau antar dengan doa dan senyuman, kepulanganku nanti kau sambut dengan kemesraan, kemuliyaanmu yang penuh ketulusan, pantaslah bila ku hargai dirimu sebagai bidadari syurgaku. Dirimu adalah anugerah Tuhan untukku, yang pasti kan ku syukuri dan selalu kan ku jaga, anak-anak nanti akan menjadi penghibur hati dan penentram jiwa, membuatku rindu untuk berkumpul di syurga nanti, semoga Alloh akan mengabulkan kerinduan ini, sehingga kita berkumpul bahagia selamanya. Kau bunga ditamanku, mekar dan kian mewangi, menghiasi diriku dimanapun aku berada. Dilubuk hati ini, engkau bidadari syurgaku, engkau bidadari syurgaku.” (the fikr – bidadari syurgaku)

                Aku semakin bersemangat untuk segera menyelesaikan studi ku di Turki, aku ingin segera kembali ke Indonesia, aku rindu keluargaku dan aku rindu isteriku. Alhamdulillah dengan kurun waktu dua setengah tahun aku sudah menyelesaikan studi ku di Turki, dan aku mendapatkan gelar master dalam bidang komunikasi. Tidak lama setelah itu, aku segera menyelesaikan semua urusanku disini dan aku segera mempersiapkan keberangkatanku ke Indonesia, sudah tidak sabar aku menahan segala rindu ini, rindu yang aku simpan dalam celengan rinduku selama dua setengah tahun. Aku segera pulang.
***
                Usiaku sudah 30 tahun. Aku sudah menyelesaikan studi S1 ku dan lulus sebagai sarjana komunikasi islam, lalu aku menyelesaikan studi S2 ku di Turki dan lulus sebagai master komunikasi. Kini aku sudah dikaruniai 2 orang anak yang sangat lucu, sang pangeran bernama Mehmet Akmal Siyamsyah, dan sang purti bernama Azizah Nurhasanah. Aku berikan nama pada anak laki-laki ku dengan dialek Turki, karena aku sangat menyukai negeri itu dan aku sangat menyukai pahlawan yang sudah membawa islam berjaya pada masa itu yaitu Sultan Mehmet atau Muhammad Al-Fatih. Alhamdulillah Alloh permudah segala urusanku. Usahaku semakin berkembang, kini aku sudah memiliki berbagai macam usaha dan salah satunya restoran, juga memiliki yayasan pondok pesantren, dan lembaga yang bergerak dalam bidang sosial dan keagamaan. Tak lupa sahabatku juga kini dia sudah menjadi seorang pengusaha besar di kota tetangga, dan kami tetap bersama dengan mendirikan sebuah yayasan pondok pesantren.

Kami hidup bahagia dalam naungan islam, yang perlu ditekankan disini bukanlah berbagai cara yang dikerahkan agar semua niatan kita terpenuhi, namun bagaimana cara agar Alloh meridhoi segala niatan yang kita inginkan. Dengan menggapai ridho-Nya semua akan menjadi mudah. Jika Alloh sudah meridhoi, semua keinginan kita akan dipenuhi oleh-Nya. Dekatkan diri pada-Nya, harapkan ridho-Nya, agar kita hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Aamiin

Komentar

Postingan Populer