Dua Satu Nol Hilang


Ingatkah romantisme masa kecil?
Ketika belum menemukan apa itu asmara, ketika tak kau rasakan debaran ini..
Ini menyiksa, saat kau menjalani sebuah hubungan, entah apapun hubungan itu, layaknya seperti kertas kosong, mau kau isi apa kertas itu?

Setiap moment kebersamaan adalah tulisan yang kau tulis, kermasuk kesalahan. Saat kau menulis lagi, berarti kau menambah masalah baru. Jadi aku harus apa?
Terkadang kita membutuhkan diam, dengan tak saling bicara, tak tersenyum, bahkan menyapa. Aku tak mengerti tentang perasaan seseorang, karena aku bukanlah cenayang, yang aku pahami saat hatiku tersedak.. sakit, namun itu indah.

Keyakinan mampu melihat lebih jauh. Seperti angin, sesuatu yang kau rasakan tapi tak bisa kau lihat. Jangan mempercayai suatu kebenaran, karena diucapkan oleh orang yang kau sayang. Aku bodoh, merasa aneh.

Hembus angin yang merasuk sejuk. Keringat menetes didada menandakan letihnya sebuah perjuangan. Hati sekali lagi merasa amat sangat nyaman, kesekian kali menundukan rasa sombong. Untuk menjadi sebuah penyinar, lupakan semuanya, fokusku pada tujuan satu.

Semua terasa mesra namun kosong
Saat segenggam cahaya beraroma hampa
Keheningan saat sang Pencipta bertindak
Apa aku bisa melawan?

Akhirnya kita telah sampai pada waktunya
Pada suatu hari yang biasa,
Pada suatu ketika yang telah kita ketahui,
Canda tawamu hilang bersama dengkuran sial.

Langkah pena tiba pada sebuah titik, mambuncah raga meluap keheningan. Suratan yang Dia gariskan itu takdir, ku rindu sendu irama. Bahagia nanti entah untuk apa, jika hanya tersimpan dalam senyuman hampa. Pertemuan singkat ini berakhir duka, duka yang kurasa tak kau rasa.
Aku teringat kata-kata seorang Soe Hok Gie “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth.”
Ya saatnya aku kembali pada ribaan hening yang menemani,

Komentar

Postingan Populer