Dewata
Pagi ini, kala kabut masih bersemayam menyelimuti kami
Disaat hati merindukan kedamaian, disaat sepi selalu
menghantui.
Pagi ini, ketika ku turun mengulurkan kasih
Tepat dalam keadaan damai kasih-Nya
Aku cinta padamu Dewata, dinginmu, indahmu. Lepas..
Aku cinta padamu, dingiiin.. hutanmu gemerisik lantunan alam.
Anugerah Tuhan, menemaniku dengan senang.
Ornamen alam seolah cindai menari-nari dalam angan. Nyata..
Sakit, kecewa ku akan waktu yang bergulir. Duka..
“Diam sial, ku katakan diam!”, Seru raja entah berantah.
Menguasai benak, menjaga sebaik-baiknya luka.
Cenayang, ya kau layaknya cenayang!
Pernahkah kalian merasa kecewa yang amat mendalam? Entah aku
yang terlalu bodoh, atau justru dialah yang memang seperti itu. Bukankah Tuhan
menciptakan manusia beserta perasaan? Ya agar manusia itu dapat merasa. “agar
manusia dapat merasa” (lirih).
Mentari dengan semburat cahayanya mengiringi kota.
Aku yang masih termenung luka semalam,
Apakah hari ini ada harapan?
Angin meniupkan sejuk, aku anggap itu pertanda baik..
Embun, entah kapan.. yang jelas masih menyisa.
Apakah itu engkau?
Komentar
Posting Komentar