None


Hari tak begitu gelap. Menandakan sebuah kecerian bagi setiap orang yang merasakannya. Indah terpaku dalam sebuah pesona hidup. Tersenyum menampakan keceriaan.
Bias cahaya bulan mulai terasa ketika sang fajar enggan untuk tetap bertahan menampakan wujudnya. Di temani sebuah orkestra alam yang terus merintik tiada henti semenjak senja tiba. Menambah kesan tak biasa di malam ini, kurasa ini malam kelabu. Pikirku di tengah untaian nada hujan yang begitu deras. Dengan ditemani beberapa kisah yang ingin ku bagi, namun entah pada siapa kisah ini akan ku bagi. Bapak ku? Beliau sibuk mencari nafkah, buat apalagi ya buat makan tiap harinya. Mamah ku? Sibuuuuukkk dengan berbagai aktivitas seorang ibu rumah tangga. Adik ku? Entahlah, dia masih terlalu polos untuk mendengar kisah perjalanan seorang anak remaja seperti ku. Masih ada yag mau mendengarkan kisahku, itu tuhan ku, ya itu engkau yaa Rabb. Namun ku sangat butuh teman interaksi ya Rabb, bukan ku bermaksud angkuh dalam keadaan ini dengan tidak melibatkan Engkau tuhan ku.
Satu, dua, tiga, empat, mungkin lima, atau enam, entahlah. tujuh sepertinya, tujuh jam setelah kepulangan ku dari aktivitas hari ini ku hanya terdiam sendiri di kamarku, sesekali ku beraktivitas jika terdengar suara adzan maghrib dan isya berkumandang.
Layaknya aku seperti seorang remaja yang lainnya, selalu ingin ku bagikan segala keluh kesah ku pada seseorang. Sekali lagi ku jelaskan, teman berinteraksi.
“apapun yang terjadi, ku kan selalu ada untuk mu, janganlah kau bersedih”  ini lagu, rasanya ingin ku rasakan hal seperti pada penggalan lirik di lagu itu. Sepertinya ku terfikir untuk mengambil gitar tua ku yang tiga tahun lalu ku beli dari seorang pengamen di ujung perempatan jalan sana, dengan sedikit memaksa ku meminta pengamen itu untuk menjual gitarnya kepada ku.





Komentar

Postingan Populer