Sepotong Episode

Tidak seperti soal tulisan yang terdapat jelas jawabanya, dalam persoalan hidup tidak ada jawaban yang pasti. ketika kehendak ku tak sejalan dengan keadaan, tak ada kepastian dalam hal ini. ketika menuntut Tuhan mengapa ini sangat tidak adil untuk ku, itu hanya tindakan bodoh. ini adalah resolusi terbesarku untuk saat ini, dimana ini dapat mengubahku menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya, dan dimana ini dapat mengangkat derajat orang tua ku dimata orang banyak. aku bangga akan hal ini, aku kuliah..
bahagia dihari pertama. dan seterusnya aku terus merasakan kebahagiaan ini, aku merasa beruntung akan apa yang terjadi dalam hidupku. aku terus mejalani proses indah ini meski banyak sekali rintangan yang sudah ku ketahui sebelumnya ini akan terjadi selama proses ini berlangsung.
semester awal sudah ku lewati, begitu banyak kenangan indah dan pengalaman luar biasa selama semester awal berlangsung. asmara, kawan baru, ilmu baru, dan seorang sahabat baru. 
entahlah aku merasa sepemikiran dengannya, hingga banyak cerita menarik dan pengalaman luar biasa yang telah ku peroleh, banyak perubahan dalam hidupku semenjak mengenalnya, terlebih dalam bidang keagamaan, maklumlah dia lulusan pesantren selama 6 tahun, meski dia selalu berkata "6 tahun masih kurang jika hanya untuk mengejar ilmu agama". walau menurutku itu luar biasa.
waktu terus bergulir, tak terasa kini aku sampai pada titik berikutnya, aku menginjak semester dua. banyak orang mengatakan disemester inilah kau akan merasakan sulit, entah dalam bidang apa, setiap orang berbeda merasakannya. pada awalnya aku merasa biasa saja, hingga pada akhirnya aku merasa sangat ketakutan. inilah kesulitanku, aku belum membayar kewajiban usks ku, ooh Tuhan. kuliah ku, resolusi terbesarku. aku bingung, bagaimana ini? aku berjanji pada kedua orang tuaku bahwa kuliahku adalah tanggung jawabku, mereka hanya tinggal tunggu saja kebahagiannya. tapi aku salah, ini tak semudah ketika ku mewacanakan untuk kuliah dengan biaya sendiri.
*** kuliahku diujung tanduk
hanya tinggal beberapa minggu lagi batasku untuk memenuhi kewajiban itu. entah harus usaha apalagi yang mesti ku lakukan. jika hanya berdiam diri itu bukan pilihan. Tuhan, aku pasrah. bagaimana kedepannya? aku lalui saja proses ini, fikirku akan ada hal baik di depan sana, seperti yang sudah-sudah aku laluli, akan ada hal baik setelah permasalahan.

kini aku merasa sangat sendiri, ketika emosiku memuncak, siapapun dia, jika tidak sejalan dengan ku hanya semburan ucapan kasar yang ku lontarkan. orang tuaku? bukan pilihan untuk ku bercerita, temanku? aku cukup selektif untuk membagikan kisahku, sahabatku? entahlah dia mungki sibuk, atau sudah terlalu bosan mendengar kisah permasalahanku. terkadang aku merasa rindu dengan kebersamaan. sudahlah. lupakan.

mereka yang akhir-akhir ini menemaniku, mendengarkan semua kisah ini, mengisi keseharian ini dan pada akhir-akhir ini aku merasa dekat dengan mereka. filter ku untuk membagikan kisah-kisahku sepertinya bocor haha
terima kasih :)




semua orang memang mempunyai masalah. hanya bagaimana setiap orangnya memiliki kemampuan diri untuk menghadapi masalah tersebut. kebersamaan bukan sekedar materi, tapi bagaimana dia dapat mengisi ketika keadaan sudah sangat tidak bersahabat. kategori sahabat memang akan berubah posisi, (bukan soal apa yang kalian fikir saat kalian membaca bagian ini). tapi ini persoalan dimana dia saat saya memang sangat membutuhkan kawan untuk membagi kisah ini, interaksi dua arah yang saya butuhkan. saya tahu mereka juga sibuk, luar biasanya mereka rela membagi waktu.
memang tidak dipungkiri, kawan dekatku yang satu itu sangat berjasa dalam perubahan diriku. banyak yang dia wariskan untuk ku, sehingga aku merasa lebih baik dari aku yang sebelumnya. terima kasih (R).

kini yang kulakukan hanya menyibukan diri dengan kegiatan organisasi. cukup menyita waktu, sehingga aku terkadang lupa dengan permasalahan yang akhir-akhir ini sedang bersahaba dengan ku. fikirku mungkin Allah sedang membelajarkanku, dan sedang mengenalkan padaku tentang arti hidup.
hariku aku nikmati dengan syukur, dengan cara ini membuatku lebih dapat menghargai atas apa yang telah diberikan-Nya. Nikmat Tuhan apalagi yang hendak ku dustakan.

persoalan kuliah tetap menjadi fokus utamaku, inilah yang ku perjuangkan. bagaimana hubunganku dengan kawan-kawan aku tidak perduli, aku hanya terus berusaha ada untuk mereka, saat mereka butuh jika ku mampu aku ada untuk mereka. karena aku pun merasakan ketika ku membutuhkan seorang kawan untuk membagi kisah, namun tak ada seorang pun yang tiba, disitu kadang aku merasa sedih. kini hanya tinggal usahaku yang harus maksimal, agar tiba pada sebuah puncak kemenangan yang di dambakan pada proses kuliah ini. aku ingin kita lalui ini bersama, kita pula yang akan nikmati bersama. meski 4 tahun lagi, tapi ini sudah bisa ku rasakan, euforia itu, tangis, rasa bangga, akan kami rasakan nanti, wisuda..
namun itu terjadi jika kuliahku akan berlanjut. penuh harap untuk hal ini. semoga Allah permudah langkahku. menyemangati usahaku. dia, wanita itu. perhiasan dunia. terima kasih atas semuanya. terkadang aku malu untuk soal yang satu ini, tapi aku sudah cukup dewasa untuk membahas perihal ini, asmara. who is she? aku tidak akan berbagi soal ini secara frontal, biar ini menjadi sebuah keambiguan. hingga pada waktunya akan benar-benar tiba. siapapun dia, aku tidak perduli, semoga Allah tetap menjaga hatinya. bukan dia yang terus menuntut ku untuk lebih baik, tapi dia yang mau melalui proses untuk menjadi lebih baik bersama. yang ikhlas dalam mengajarkan, maka aku pun berusaha untuk itu. yang tulus dalam bertindak, aku akan lebih dari itu.
terima kasih semuanya. memberikanku arti bahwa hidup ini bukan perkara memulai lalu menunggu akhir. dalam itu semua terdapat proses. proses itu yang menentukan akhir. akan ditutup dengan akhir yang seperti apa? kalian sendiri yang menentukan.











Komentar

Postingan Populer