Setahun di Pondok pesantren Persis 50 Lembang.

Oktober 2018 aku kembali ke kota kembang, kota indah nan sejuk, tempat kelahiran ku dan jutaan seniman. Konon, Bandung tercipta ketika Tuhan sedang Tersenyum, katanya. Kota rantauan ku juga indah, dia memiliki langit senja yang sangat luar biasa, juga langit biru pagi yang menawan. Andai saja disana sejuk.

Tentu aku pulang dengan hati yang tak tenang, segala beban pikiran terus menggelayuti, ditambah beban ransel dan koper yang aku bawa. Saat itu aku dijemput salah seorang teman ku di terminal Cicaheum, dari kejauhan badan besar dan kulit cokelatnya sudah terlihat, saat bertemu, ia melontarkan kalimat hinaan kepadaku, ia cukup terheran dengan kelakuan ku. Dan aku hanya tersenyum bahagia. Aahh akhirnya Bandung.

Tiga bulan kedepan aku akan bersanding dengan wanita pilihanku, sedang persiapan materi pun rasanya amat sangat kurang, maskawin belum terbayang, rasanya ingin menyerah dalam perang. Dan pulang, tak membuatku tenang. Saat itu.

Nenek masih di ruangan ICU RS Boeomeus, dan Mamah masih saja dengan air matanya soal bapak. Rumah saat itu amat sangat menyedihkan, bahkan untuk tersenyum pun sangat sulit. Di waktu makan siang, aku bukan social media ku, aku melihat salah satu temanku Men-posting peresmian Sekolah jenjang Mualimien PPI 50 Lembang, aku tak pikir panjang, aku sedang membutuhkan pekerjaan. Bodo omat soal latar belakang pendidikan ku yang seorang sarjana Komunikasi Islam, aku harus dapat pekerjaan.

"kang, coba hubungi nomor 0813xxxxxxxx, langsung komunikasi aja sama dia".
Temanku bilang begitu, aku langsung menghubungi nomor tersebut dan balasannya membuat hati sumringah, "silahkan kirim cv nya melalui whatsapp secepatnya".


Wow, aku terheran, tapi pikirku karena ini sekolah baru barangkali sehingga mereka membutuhkan cepat. Keesokan harinya aku menerima informasi dan diharuskan datang ke pondok pesantren. Kesan pertama memasukinya aku jatuh hati, amat sangat sejuk tempat ini, sengaja ku pelankan motor ku sembari melihat-lihat lingkungan pesantren. Sampai ku temui kerumunan orang di ujung ruangan, ternyata bukan hanya aku saja, dan ternyata bukan wawancara pekerjaan seperti yang aku pikirkan, melainkan peresmian Mudir dan asatidz baru. Dalam hari ku bertanya-tanya, ada apa ini, aku sangat tidak mengerti apa yang terjadi di tempat ini.

Aku ingat, ada teman ku yang mengajar disini, di jenjang MTS, setelah komunikasi dengannya aku sedikit tahu apa permasalahan yang ada di sekolah ini. Jujur, saat itu aku bingung, melanjutkan disini atau mundur. Keduanya memiliki alasan, dan pada akhirnya aku memilih melanjutkan karena membutuhkan pekerjaan.

Tiga bulan berikutnya, hari pernikahan ku tiba, memang tak ada satu pun karyawan sekolah ini yang hadir, aku memakluminya karena mereka sedang mengadakan acara Taa'ruf antara santri dan asatidz baru. Aku jalani peranku sebagai guru disini, aku menikmatinya, profesi guru sudah aku jalani sejak 2013, mengajar anak-anak jalanan bersama Komunitas ku di Bandung.

Semakin hari, aku makin menikmati, aku menyayangi semua santri-santri, rasanya hayalanku ada di depan mata. Maklum, aku menginginkan masuk pesantren, tapi orang tua tidak mengizinkan. Alhamdulillah tak perlu waktu lama mengambil hati para santri, entah karena pengalaman ku banyak dekat dengan anak-anak atau memang gaya mengajarku yang mereka sukai. Aku tidak terlalu menyukai kelas yang kaku, pakaian yang formal, asal rapi bagi ku sudah cukup. Aku terbiasa mengajar dengan pakaian yang bebas, dan di sekolah ini pengalaman pertama ku mengajar di institusi pendidikan formal.

Tak terasa sudah satu tahun lebih aku disini, aku sangat menikmati sampai-sampai waktu tak terasa berjalan begitu cepat. Aku bahagia di mengajar di Pesantren, tapi banyak hal yang membuatku ragu untuk bertahan disini. Sempat satu waktu aku memutuskan untuk benar-benar meninggalkan pesantren, rasanya aku sudah tidak bisa bertahan disini, Mbien aku jek betah, sue-sue wegah cuk, loro ati sebenarnya, tapi rasanya berat sekali meninggalkan anak-anak juga geng Apenjer haha, Sebulan aku tak menjumpai mereka, namun setiap hari aku melewati pesantren, karena akses jalan ke kota pasti harus lewat pesantren. Rasanya hati ini "waas", komo mun nempo santri terus ngageroan, ah ya Allah, berat. Sampai satu waktu keputusan ku sudah bulat, surat resign sudah ku buat, tapi aku dijumpai orang tua santri dan santrinya, ia sambil menggendong tangan, aku tau kecelakaan yang menimpa santri tersebut, tangannya patah akibat kecelakaan saat bermain di lapangan pesantren. Santri dan bapaknya meminta ku mempertimbangkan kembali keputusan ku, bukan hanya beliau sebenarnya, handphone ku banyak dihubungi orang tua santri yang menyesali keputusan ku. Aslina harita beurat pisan, tapi bingung kudu kumaha.

Singkat cerita, akhirnya aku tetap bertahan, dengan alasan yang sangat penting, aku harus selesaikan kasus anak tersebut, membantunya, dan aku bisa tenang untuk pergi.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer