Reinkarnasi Anganku

***
Dua puluh tiga tahun yang lalu:
                Aku masih termenung akan keramaian yang terjadi, isak tangis meramaikan kesunyian yang sebenarnya terjadi. Tak luput setiap orang yang ada dihinggapi rasa kehilangan. Termasuk aku.
                Pagi itu aku sedang berada di tengah rumah, asyik menikmati suguhan tawa dari nenek ku. Orang-orang memanggilnya ­mbah. Seketika Mbah meninggalkanku usai mendengar teriakan dari belakang rumah. Samar ku lihat, aku sebenarnya tak mengerti apa yang terjadi. Usiaku pada saat itu 2 tahun, yang aku fahami adalah menangis ketika membutuhkan sesuatu.
***

Aku hirup udara sejuk kota ini, usai ku menyelesaikan pendidikan agama ku di salah satu pondok pesantren di kota Solo. Setibanya dengan Bis di terminal Leuwi Panjang, “aahh enak sekali udara di Bandung”. Ucapku dalam hati. Aku kemas barangku yang dengan sembarang aku bawa sedari tadi. Sebenarnya aku tak tahu hendak kemana, karena sebelumnya aku tak pernah turun di terminal ini. Setiap aku menyambangi ibu ku, aku selalu berhenti di dekat jembatan layang kota tempat di mana aku akan memulai lembarang hidup baru. Tapi kali ini aku berhenti disini, aku berjalan dan coba bertanya harus menaiki angkot apa hingga sampai di Kota Tujuanku, kota yang berbatasan langsung dengan Kota Bandung. 

Dua jam perjalanan akhirnya aku tiba di kota tujuanku, aku turun dari angkot tepat di bawah jembatan layang. Kota ini berbeda dengan Bandung, padahal jaraknya tidak terlalu jauh, tapi tatanan kota dan keadaan jalanannya sangat berbeda. Hari ini Juli 2014, di kota ini, aku memulai perjalanan baruku. Dengan ibu dan keluarga ku, yang belum pernah aku bercengkrama menghabiskan waktu dengan mereka, sedari Sekolah Dasar aku terbiasa hidup sendiri. Ya benar, aku selalu sendiri.
“baiklah Iqsas, kita mulai perjalanan ini! Live must go on sas!”

                Setibanya di pintu rumah, aku mengetuk dan mengucapkan salam, tapi tak seorang pun yang menjawab salam ku. Mungkin bias dikatakan aku tiba dengan cara yang mendadak, tak sedikitpun aku memberi kabar bahwa aku akan tiba hari ini. Persoalannya aku tidak dibekali telepon genggam, modalku hingga sampai sini adalah bertanya.

Komentar

Postingan Populer