Ranti
Ranti. menanti memang tak semudah mencari, namun mencari itu tak semudah kau hisap udara. Ranti, ada tubuh yang siap kau peluk, ada bahu yang menanti tidurmu. Kau punya Tuhan untuk bisa kau gantungkan harap, untuk apa menyimpan rindu pada manusia. Ia hadirkan segala kekecewaan, memang disanalah letak keresahan.
Ranti. Menjadi dirimu memang tidak mudah, namun apalah arti hidup jika kau ingin menjadi orang lain. Dirimu adalah mutiara terindah orang tuamu, harapan terbesar dari proses biologis yang telah terjadi. Coba kau kejar mentari, dan bisa kau lihat bayangan akan mengikutimu. Jangan kau coba mengejar bayanganmu, jika ia menjauh dari cahaya, bayangan akan hilang, lalu nanti kau berdiri dengan siapa?
Ranti. Jangan biarkan dirimu menghilang dalam penyesalan. Berharap.
TEMU
Sayang, hendak kemana? aku melihatmu risau, kau bergegas dengan tas berisi kegelisahan, bersama langkah kaki yang gontai. Ku lihat kau tekuk dahimu, ada apa?
Ranti, sendiri memang tak membuatmu merasa ramai. Bukan jaminan juga saat kau memiliki pasangan adalah kebagahiaan. Ia terletak pada hati yang selalu bersyukur, jangan lupa kau ucap asma Tuhan yang sedari dulu telah kau yakini. Terlampau sederhana kesakitanmu hanya karena ditinggal sang pangeran, karena sebenarnya dirimu lebih berharga kala harapan kau gantungkan hanya pada Tuhan.
Ranti, kebahagiaan adalah ujian, juga dengan kesedihan. Barangkali semua yang Tuhan sediakan di dunia ini adalah ujian. Dengan segala yang ada di dunia ini seolah pertaruhan, keindahan yang nampak bagai oase dalam bayangmu yang sedang berjalan di padang tandus.
Ranti, berhentilah menangis. Jika aku adalah sesuatu yang diciptakan untuk memiliki raga, aku ingin memelukmu. Mana tega aku melihat dirimu. Aku yakin, semua ucapan kasarmu, perilakumu adalah manifestasi dari rasa khawatirmu akan sebuah kehilangan. Aku mewajarkannya, karena kau makhluk yang memiliki hati, juga akal sehat.
Ranti, patuhlah pada ayat Tuhan. Karena itu tuntunan hidup. Aku menanti kau tersenyum.
Komentar
Posting Komentar