Agar Allah Cinta Padaku

Sahabat, manusia adalah makhluk yang paling sempurna dibandingkan makhluk Allah yang lainnya. Mengapa manusia disebut sebagai makhluk yang sempurna? Hal itu dikarenakan manusia dikaruniai akal dan hati oleh Allah SWT. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah At-Tin ayat 4.

 لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ ٤
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Dalam ayat tersebut Allah menyebutkan bahwa Ia telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna. Bahkan dalam kisah penciptaan manusia, dikatakan bahwa syetan iri terhadap manusia. Ketika Allah memerintahkan syetan untuk sujud kepada nabi Adam, syetan tidak mau untuk melakukannya. Dalam kisah ini sangat terlihat betapa sombongnya sikap yang dimiliki oleh syetan.

Sahabat, betapa besar sekali kebaikan yang Allah berikan untuk kita, salah satunya dengan menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna, namun seringkali kita lupa dengan kebaikan itu. Tentulah kita merasa malu dengan kebaikan Allah, karena kelalaian kita terhadap segala perintah dan larangan Allah. Tanpa disadari, hal itulah yang membuat kita merasa resah, dan merasa bahwa Allah tidak membantu segala urusan kita. Allah sebenarnya sangat sayang terhadap kita, sesuai dengan salah satu sifat yang dimiliki Allah yaitu Maha Pengasih dan Penyayang. Tanpa kita meminta pun sebenarnya Allah akan sayang dan cinta kepada kita, namun tentunya ada perilaku kita yang belum tentu bisa dicintai oleh Allah. Lalu sebenarnya bagaimana cara-cara agar kita menjadi anak yang dipilih oleh Allah? apakah sahabat mau menjadi anak yang dipilih dan dicintai oleh Allah?

Allah sangat sayang kepada makhluk yang patuh terhadap perintah-Nya. Lalu apa sajakah hal-hal yang harus kita lakukan?, tentunya banyak sekali perintah Allah kepada manusia, namun ada beberapa hal sederhana yang bisa kita lalukan dalam kehidupan sehari-hari. Apa sajakah itu?

1. Birrul Walidain (Berbakti kepada orang tua)

Berbakti kepada orang tua merupakan perintah wajib dari Allah, berbakti kepada orang tua juga hal sederhana yang dapat kita lakukan sehari-hari. Coba bayangkan wajah kedua orang tua kita? dulu, sebelum kita bisa melihat dunia, kita tahu bahwa ibu dengan kesusahan membawa berat badan kita dalam perutnya selama 9 bulan, lalu ketika melahirkan ibu juga dengan susah payah dan menahan rasa sakit, tapi hal itu hilang ketika ibu mendengar suara tangisan kita. Dengan perjuangan ibu alhamdulillah kita bisa lahir di dunia ini.
Dengan sabar dan telaten orang tua membesarkan kita hingga seperti saat ini. Jika kita hitung jasa dan kebaikan mereka, tentunya tidak akan pernah terbalas oleh apapun.

Selanjutnya coba kita ingat hal apa saja yang pernah kita lakukan kepada orang tua kita, alhamdulillah sangat disyukuri jika kita telah berbuat baik kepada orang tua kita, namun disayangkan jika kita masih kurang baik kepada orangtua. Padahal jika diingat tadi, banyak pengorbanan orangtua yang telah dilakukan kepada kita. Maka, tidak ada alasan bukan untuk kita tidak berbakti keada orang tua?

Mari kita menjelajah ke zaman dahulu, diceritakan ada seorang anak yang bernama Sayyidina Ali Zainal Abidin ra, Ali sangat berbakti kepada orangtuanya. Sampai sahabanya Ali berkata kepadanya: “engkau adalah anak yang paling berbakti kepada ibumu, tapi mengapa engkau tidak pernah terlihat makan bersama ibumu?. Ali menjawab, “ya, karena aku khawatir tanganku mendahului mengambil makanan yang hendak dirasakannya, sehingga aku mendurhakainya.”
Subhanallah sampai seperti itu perilaku Sayyidina Ali terhadap orangtuanya, ia mencoba menjaga adab kepada orangtuanya.

Contoh lainnya adalah kisah nabi ismail, ketika usianya mencapai 13 tahun, ayahnya nabi Ibrahim ra berkata: “Wahai anakku sesungguhnya dalam tidurku, aku bermimpi menyembelihmu.” Dan jawaban dari nabi ismail adalah “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, Insya Allah ayah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Kisah nabi ismail ini bisa sahabat lihat dalam Al-qur’an surah As Shaffat ayat 102.

Setelah perbincangan itu, nabi ibahim mematuhi perintah Allah dan hendak menyembelihnya. Namun seketika nabi Ismail teringat kepada ibunya, sehingga nabi Islami menyembaikan pesan kepada ayahnya, “jika Ayah hendak mengembalikan bajuku kepada ibu, maka lakukanlah karena dengan itu dapat menghibur hati ibu dan sebagai kenangan untuk ibu.”

Berkat kesabaran nabi Ismail dan ayahnya nabi Ibrahim, maka Allah yang sedang menguji keduanya menggantikan ismail dengan seekor domba untuk disembelih. Nah, sahabat bisa lihat kan betapa nabi ismail sangat berbakti kepada orangtuanya, nabi ismail patuh kepada perintah Allah yang sebenarnya itu hanya ujian saja yang Allah berikan, untuk mengetahui kadar kesabaran nabi Ismail dan ayahnya. Dari kisah tersebut kita bisa mengambil pelajaran agar selalu berbakti dan patuh kepada orang tua kita, selama perintahnya tidak melanggar aturan Allah kita harus melakukannya.


2. Menyayangi sekitar

Bagaimana yang dimaksud dengan menyayangi sekitar?, sahabat pernah mendengar tentang tawuran anak-anak sekolah? Atau teman yang memperlakukan teman lainnya dengan kasar? Atau melihat orang lain memukuli hewan kucing atau anjing dijalanan?

Sangat menakutkan kan? Perilaku itu sangat tidak memperlihatkan sebagai manusia yang sempurna. Di awal tadi dikatakan, bahwa kita dalah makhluk yang paling sempurna kan, kita diberikan Akal (pikiran) dan hati (perasaan). Dengan seperti itu, contoh perilaku di atas sangat bertentangan bukan dengan fitrah kita sebagai manusia?, sebagai makhluk yang diberikan oleh Allah perasaan, seharunya kita bisa lebih menyayangi sesama. Menyayangi sesama tidak hanya untuk sesama manusia, tetapi juga bisa menyayangi lingkungan sekitar kita, seperti Hewan, tumbuhan, kebersihan dan lain sebagainya.

Ada sebuah kisah dari Umar bin khattab, pada saat itu Umar melihat anak kecil lain sedang memaikan seekor burung tanpa rasa kasihan,Umar sangat tidak tega melihat kejadian itu, ia begitu tidak tega melihat burung tersebut. Lalu Umar mendekati anak itu dan berniat untuk membeli burung kecil itu, dan bersyukurlah bahwa anak kecil itu rela menjual burung yang ia mainkan kepada umar. Setelah burung itu diperoleh, Umar selanjutnya melepaskan burung itu agar bisa terbang di alam bebas. Begitu baik dan ada pelajaran dari kisahnya Umar Bin Khattab, selain baik kepada sesama manusia, ia pun baik kepada sekitarnya.
Maka kita pun dianjurkan untuk bersikap baik kepada apapun dan siapapun, dengan kita bersikap baik, tentulah orang lain pun akan berbuat baik kepada kita. Bisa kita bayangkan jika kita berbuat buruk kepada orang lain, tentunya hidup kita akan kesepian, karena tidak ada yang mau berteman dengan kita. tapi sebaliknya, jika kita berbuat baik kepada orang lain, tentunya kita akan disenangi oleh orang lain, kita akan banyak teman untuk berbagi segalanya.

Semoga kita termasuk anak-anak yang baik dalam bersikap, dan bisa menyayangi sekitar kita. aamiin

Komentar

Postingan Populer