Sabar. Setahun di UNISBA
Hidupku
selama ini membuat aku insaf untuk menjinakkan badai hidup, "mantra"
man jadda wajada saja ternyata tidak cukup sakti. Antara sungguh-sungguh dan
sukses itu tidak bersebelahan, tapi ada jarak. Jarak ini bisa hanya satu
sentimenter, tapi bisa juga ribuan kilometer. Jarak ini bisa ditempuh dalam
hitungan detik, tapi juga bisa puluhan tahun.
Jarak
antara sungguh-sungguh dan sukses hanya bisa diisi sabar. Sabar yang gigih,
sabar yang tidak menyerah, sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung yang
paling ujung. Sabar yang bisa membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi
mungkin, bahkan seakan-akan itu sebuah keajaiban dan keberuntungan. Padahal keberuntungan
adalah hasil kerja keras, doa, dan sabar yang berlebih-lebih.
Bagaimanapun
tingginya impian, dia tetap wajib dibela habis-habisan walau hidup sudah
digelung oleh nestapa akut. Hanya dengan sungguh-sungguhlah jalan sukses
terbuka. Tapi hanya dengan sabarlah
takdir itu terkuak menjadi nyata. Dan Tuhan selalu memilihkan yang terbaik dan
paling kita butuhkan. Itulah hadiah dari Tuhan untuk hati yang kukuh dan sabar.
Sabar itu
awalnya terasa pahit, tetapi akhirnya lebih manis daipada madu. Dan alhamdulillah,
aku sudah mereguk madu itu. Man shabara zhafira. Siapa yang sabar akan
beruntung.
(sebuh kutipan dari novel Ranah 3 warna)
Kutipan
ini sangat merasuk dan cukup menjiwai. Sabar yang aku dapatkan setelah satu
tahun aku berkuliah di Unisba, sabar yang penuh dengan cacian, sabar yang pada
akhirnya dapat aku hirup wanginya. Jika ingat perjuangan untuk seperti ini
cukup melelahkan, namun angan yang akan terjadi nanti demi orang tuaku.
AMS. Di Aula besar UNISBA
Komentar
Posting Komentar