Kapal Kami
Tidak pernah terkira akan seperti ini, ujian ditahun ini
amat sangat tidak terkira. Ternyata tidak hanya terjadi dalam sinetron, ketika
diusir dari rumah kontrakan karena tidak cukup untuk membayar uang sewa rumah,
bingung untuk membayar kuliah dan sekolah adik. Aku tidak tinggal diam, begitu
pun bapak, kami berusaha untuk mencari nafkah itu demi berlangsungnya
perjalanan kapal keluarga kami.
Terkadang sang nahkoda lelah menjalaninya, dan awak
kapal pun goyah. Aku sebagai anak pertama, turut bertanggung jawab atas
ketidaknyamanan kapal keluarga kami. Tapi apa daya, usaha telah kami kerahkan
namun Tuhan lah pemutus segalanya, Dia yang memutuskan akan berlayar kemana
kapal kami setelah kami berusaha.
Kami hidup seadanya, penuh goncangan memang didalam kapal
ini, tapi syukur tetap dijunjung tinggi. Ketika sabar sudah tidak bisa
mentoleransi kesengsaraan, emosi terkadang meluap. Apa yang salah?
saat padam, kembali muhasabah diri. Mungkin ada hal yang kurang, kapal pun kembali berlayar dengan rasa sabar.
saat padam, kembali muhasabah diri. Mungkin ada hal yang kurang, kapal pun kembali berlayar dengan rasa sabar.
Pernah sahabatku berkata “disetiap ada kesusahan, pasti ada
kebahagiaan. Jika ujian itu berat, maka kebahagiaan itu akan sangat bahagia
sekali, tapi jika itu dijalankan dengan rasa ‘sabar’...” (Muhammad Rizky Fauzi)
Bapak tidak meninggalkan harta benda, karena
kami hidup seadanya, tapi bapak melahirkan banyak pelajaran hidup dan nasihat
yang menjadi bekal untuk ku hari ini, dan mamah tidak
meninggalkan ilmu, karena mamah hanya seorang wanita hebat yang hanya bisa
menyelesaikan sekolahnya hingga sekolah dasar saja, tapi mamah mengajarkan ku
untuk saling mengasihi dan jujur dalam hidup sebagai bekal yang berarti.
Kapal kami tetap bahagia dengan konsep sabar dari sang
nahkoda, semoga kapal kami segera bermuara pada kebahagiaan yang diridhoi
oleh-Nya. Aamiin
“Allah tidak membebani seseorang melainkan
sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang
diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.
(Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami
lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami
beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami
memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah
Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (Al Baqarah :
286)
(25 Juni 2015)
Komentar
Posting Komentar